Dilarang Cukur J***** (Sebelum Naik Angkutan Umum)

Inget guyonan jadul kalo melihat orang lain berjalan dengan tangan agak renggang ke samping (sedikit macho dan cowboy style gitu)?. Pasti bulu keteknya tajem.., nah yang ini juga mirip-mirip kayak gitu, cuman yang tajem bukan bulu keteknya. Sebuah fenomena yang sangat mudah untuk ditemukan, terutama yang senantiasa berangkutan umum untuk berpindah tempat. Mulai kebayang belum kawan?, itu kalau kita naik angkutan umum yang kebanyakan kursinya sharing dan berderet, baik itu patas, mikrolet dan lain-lain… Iya kalo lagi kosong, kita tinggal geser sedikit ke samping menghindari persentuhan yang seringkali tidak diinginkan. Cuman kalau tempat duduk lagi penuh..walah, ujungnya sih gua ngalah, badan gua yang udah tipis ini terpaksa ditipisin lagi, paha dirapatkan sambil tertawa dalam hati ngelirik ke sebelah (hmmhh nih orang pasti abis cukur j***** …wekekekekke).

Read the rest of this entry »

Bekerja untuk Karya?

Menyimak blogger Doeljoni mengenai bekerja, menarik untuk gua kupas sedikit dari perspektif gua, karena nun dahulu kala pernah sekiranya gua membahas masalah ini ketika membuat skripsi, tentunya dari kajian pilosofis yang juga tidak terlalu mendalam. Kerja, bekerja (work dalam bahasa inggris) mengandung pengertian sebagai sebuah upaya untuk meraih sesuatu atau hasil (Ini terjemahan bebas dari kamus encarta dan oxford).

Sebuah contoh kenyataan yang masuk ke dalam kategori ini, “Komunitas yang bekerja untuk menghasilkan sistem operasi berbasis Personal Computer yang bersifat Open Source”, hasilnya; Sistem Operasi Open Source, bandingkan dengan kenyataan “Seorang Waria Pengamen (WP) bekerja untuk mendapatkan UANG sebesar 75rb Rupiah per hari demi memenuhi kebutuhan hidupnya”, apakah pemenuhan kebutuhan dari dimensi materi dalam hal ini uang demi pemenuhan kebutuhan fisik (primer, sekunder, tersier) termasuk dalam kategori sesuai dengan arti kata bekerja itu sendiri?.

Read the rest of this entry »

Hare Genee Susah Cari Warnet?

Kayaknya sih gua yang agak-agak oon.. setelah jalan kurang lebih sejaman dari Jogja Expo Center di Daerah Bantul baru deh nemu yang namanya warnet, sementara kebutuhan untuk mengirim e-mail sudah tidak bisa ditunda… kalo bisa mah, menimbang panas dan botaknya kepala gua kayaknya gua bakal memutuskan untuk mundur..:).

Yang pusingnya, setiap nanya jalan dijawabnya selalu dengan, itu lampu merah di sebelah utara belok kearah timur, walhasil gua kebingungan karena tidak terbiasa dengan penggunaan mata angin sebagai penunjuk aeah tanpa kompas.. hiks..jadi malu ngaku-ngaku anak Mapala huehehehe. Namun setelah melakukan riset sederhana terbukalah rahasia kenapa masyarakat jogya gampang melakukan orientasi medan, karena ada Gunung Merapi di sebelah utara yang hampir selalu terlihat dari semua bagian kota, ditambah lagi kalo liat digambar Ilustrasi buku Indonesia Archipelago, jaringan jalan di Jogya memang membentuk grid-grid yang teratur, jarang ada jalanan nyerong yang bakal bikin orang kayak gua makin bingung kalo nanya jalan :)…

Alhasil, e-mail terkirim .. namun ada satu attachment yang tidak bisa dibuka yang baru gua ketahui setelah gua balik ke JEC…wakkkk, jadilah baru hari ini dikirim ulang.. dari Surabaya, yang sukuuuurrr warnetnya cuman tinggal nyebrang..

**